Thursday, 1 July 2010

TIPE SAYA

Nah, okelah kita lupakan soal salah beli itu... Soalnya klo diingat lagi, bukan cuma perasaan aja yang kembang-kempis, dompet saya juga... :) Selesai belanja, kami (saya, sahabat saya, 
tantenya dan dua anaknya) pergi makan. Kegiatan berbelanja hari ini selain menguras uang dan otak juga menguras tenaga saya. Kami masing-masing memilih makanan dan minumannya. Biasa kan klo kita makan, pasti kita ngobrolin banyak hal. Mulai dari sesuatu yang umum sampe yang khusus atau personal. trus, sampelah dicerita soal ibu saya Insya Allah bulan Agustus mau punya cucu pertama. Jadi klo dibuat percakapan kira-kira bentuk obrolan kami sesudah itu begini:
Tante (T) : Jadi klo S kapan?
Saya (S) : hahaha, itu dia... Ini yang mo diajak nikah ngga ada... *nyengir-nyengir
Kawan (K): (ikutan ketawa)
T: ini bukan ngga ada yang mau diajak nikah, tapi masih banyak pertimbangan... jangan pilih-pilih kali...
S&K: (tengok2an trus ketawa)
S: itu juga masalahnya, yang mau dipilih-pilih pun ngga ada.... *nyengir lagi...
K: iya itu sekarang masalahnya...

Obrolannya sih ngga persis begitu, soalnya saya ngga ingat lagi detailnya kayak gimana... Nah, trus si tante nanya lagi sama saya soal TIPE cowo yang saya mau itu seperti apa. Nah ini dia, TIPE seperti apa yang saya cari... Hhahaha, saya tidak akan bohong klo ditanya ada ditipe untuk orang yang saya cari... Memang ada, tapi bukan berarti saya pemilih... Saya pikir adalah hal yang biasa klo seseorang punya kriteria tertentu untuk orang yang diharapkannya... Tipe disini bukan sebagai tolak ukur, tapi buat saya tipe ini hanya sebatas pada sesuatu yang membuat saya tertarik di awal pertemuan... Hheehehe, Tapi terus terang, setiap ditanya hal itu saya selalu kesusahan untuk menjawabnya... Tapi klo dipaksa untuk menyebutkan satu tipe, yang paling cepat bisa bilang lelaki itu harus punya tinggi badan lebih daripada saya... :)) Tipe-tipe lainnya akan mengikuti... Misalnya, saya kadang suka dengan tipe orang yang pendiam, agak pemalu karena kadang saya suka dengan tantangan dalam proses mengenal orang itu... Tapi tolong jangan hadapkan saya dengan laki-laki cerewet/bawel seperti saya... Sudah cukup saya saja yang seperti itu :))

Begitulah, jadi sangat sulit untuk saya menyebutkan tipe orang yang saya cari... Tapi saya tidak akan bilang saya tidak punya tipe dalam menentukan pilihan hidup saya... :))

Salah Beli

Pernahkah kalian membeli sesuatu karena ngga enak hati sama si pelayan yang udah sabar hati melayani kita dalam memilih? Kalau belum pernah, silahkan baca tulisan ini. 
Hari ini saya pergi ke salah satu tempat perbelanjaan. Berangkat ke sana sendirian, tapi udah janji ketemuan sama sahabat saya. Sahabat saya pergi dengan tantenya yang kebetulan juga akan pergi membawa dua orang anaknya. Singkat cerita, setelah saya ketemu sahabat saya beserta tantenya, kamipun berpisah sama tante dan dua anaknya. Kami sebenarnya cuma mau jalan-jalan aja, tapi karena Ibu saya titip dibelikan beberapa barang, jadi kami putuskan untuk belanja juga. Saya kemudian ingat mau beli sesuatu yang kemarin itu udah direncanakan dibeli kalo saya ada pergi ke swalayan atau tempat-tempat yang menjual barang yang saya mau itu. Pergilah dua orang sahabat ini ke counter barang itu. Lihat yang ini, pegang yang itu, sampai akhirnya ada pelayan yang datang menawarkan barang sejenis yang ada diskonnya. Nah, seperti biasa pula saya pasti tertarik sama barang yang diberi label diskon. Maklum aja, kalo ada yang diskon dan bagus kenapa harus beli yang mahal? Hehehehe...  Diskonnya memang ngga sampai setengah, tapi harga  dan diskon yang diberikan membuat saya  merasa tertarik. Pilih ini itu, lihat ukuran dan warna, tanya ini itu, saya pun memilih satu. Kemudian si pelayan bilang kalo barang yang saya beli ini harus dibayar di tempat dan harga sekian rupiah. Saya sedikit terkejut saat si pelayan menyebutkan nominal harga barang yang saya pilih tadi, karena ternyata saya salah harga!!! Ternyata harga yang saya lihat itu adalah harga sesudah diskon... Harga sebelum diskon ada di belakangnya, saya tidak melihatnya... Saya tidak protes, karena si pelayan tidak salah sedikitpun. Saya keluarkan uang dalam jumlah tersebut dengan perasaan bersalah pada diri sendiri.

Barang itu sudah ada di rumah saya sekarang, tapi saya sedikit kesal pada diri sendiri yang kurang cermat dalam melihat sesuatu... Bayangkan saja, tadi niat saya membeli sesuatu yang tidak cukup mahal tapi lebih dari satu, karena sebenarnya sekarang saya perlu barang tersebut dalam bentuk kuantitas, bukan kualitas... Bukan mengabaikan kualitas juga, tapi sekarang ini saya perlu barang itu dalam jumlah yang lumayan banyak. Masalahnya di sini, uang yang saya keluarkan untuk satu barang itu tadi, ternyata bisa membeli barang yang sama dengan kualitas yang sedikit di bawah tapi dalam jumlah yang lebih dari satu...

Sampai sekarang, saya masih sedikit geli mengingat kejadian tadi... Saya gak berani membatalkan pembelian karena pelayannya sabar melayani saya yang banyak bertanya... Saya jadi berfikir, kalo tadi si pelayan ngga ramah, mungkin saya bisa saja membatalkan pembelian barang itu... :) :) :)

Tuesday, 9 March 2010

Belajar jadi guru TK

Note: Cerita ini dicopas langsung dari NOTE di account FB Puan, Hehehheee


Jadi ceritanya hari ini (Selasa, 9 Maret 2010) Puan ikutan (nimbrung sebenarnya) di salah satu kegiatan yg diadakan kk senior (yg juga teman se-profesi, esseeeh)...
Awalnya sih, cuma mau mengamati aja kegiatan mereka (jadi outsider rencananya...)
Kegiatannya mengajarkan beberapa anak kecil usia sekolah dasar... Materi yang diajarkan juga beragam, mengingat yang datang tadi juga berasal dari macam-macam usia sekolah...
Ada yang belum sekolah, tapi ngga mau ketinggalan dengan teman-temannya yang udah sekolah...

Singkat cerita, yang udah sekolah tadi ada yang kelas empat SD, kelas dua SD, kelas satu SD dan satu orang yang masih TK. Kakak pendampingnya sendiri ada lima orang, empat orang berasal dari satu lembaga sosial yang sama dan Puan sendiri tentunya...

Awalnya, tadi sedikit takut juga waktu ditanya mau mendampingi anak yang mana... Hehehheheh, bukan apa-apa, selama ini Puan ngerasa ngga punya ikatan yang kuat sama anak-anak... Takut aja kalo nanti mereka ngga menaruh perhatian sama apa yang diajarkan...
Setelah berfikir cepat, Puan pilih anak yang masih TK dan yang belum sekolah...

Oia, kegiatan ini dilaksanakan di rumah orang tua salah satu anak yang juga ikut dalam kegiatan ini. Ruangannya memang ngga cukup luas untuk menampung kami, tapi sangat nyaman karena kami jadi dekat dengan anak-anak yang ikut... Kegiatan tadi diawali dengan kami melakukan perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan mereka memperkenalkan diri dengan permainan yang membentuk mereka secara tidak langsung untuk menjadi individu yang fokus...
Kegiatan ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu, dan hanya 2 jam saja...

Ternyata, kekhawatiran mengenai respon yang negatif dari peserta kegiatan sangat salah...
Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan ini...

Nama anak yang jadi tanggung jawab Puan hari ini adalah Fira dan Adinda.
Fira adalah yang TK dan Adinda masih belum sekolah.

Puan mengajarkan Fira mengenal huruf yang ternyata sudah bisa ditulisnya dengan benar.
Lucu sih, karena dia bisa menulis, tapi belum bisa membaca hurufnya...
Puan sempat berfikir cara mengenalkan huruf itu seperti apa ya?
Dulu Puan memang pernah TK, tapi yang paling diingat cuma belajar menulis dengan tangan kanan... Hahhhahhah, hanya itu.

Akhirnya, belajar dimulai dari mengenalkan lima huruf pertama... A-B-C-D-E.

Sebenarnya Puan sendiri masih bingung dengan konsep yang benar untuk mengajar anak TK itu seperti apa, tapi syukurnya Fira sudah bisa mengenal lima huruf tadi (meskipun masih sering menukar lafal untuk B dan D...)
Memang yang menjadi sasaran utama untuk belajar hari ini hanya Fira, karena Adinda sendiri belum bisa dipahami kemana arahnya...
Selama belajar lima huruf itu, Fira juga minta untuk diajarkan menggambar (hal yang paling tidak Puan kuasai... -.-) Hahahahahaha, gambar Puan benar2 jelek (syukurnya lagi, Fira tampak puas dengan hasilnya ^^)

Intinya sih, Puan SENANG!!!!! Senang bisa mengajarkan Fira mengenal huruf yang selama ini sudah biasa ditulisnya.... Senang juga karena tadi waktu Fira bertanya apa hari Kamis kami akan ketemu lagi dan Fira minta diajarkan membaca....

Yihaaaaa, senanglah pokoknya,
(yah meskipun tadi ada satu anak yang sering memecah konsentrasi Fira untuk belajar 0_o).

Dari kegiatan ini, Puan sepertinya bisa belajar sabar, belajar menggambar juga kayaknya...
ahahahahah



DO'A kan saya ya!!!

Friday, 18 September 2009

SaToSis

Ini bukan sejenis perkumpulan NINJA atau sejenisnya, ini hanya nama makanan yang isinya ada sayur SAwi, TOfu plus soSIS... Awal pembuatannya sih bermula dari rasa malas untuk bikin makanan, tapi keadaan memaksa untuk menyediakan seenggaknya satu jenis sayuran...
Berhubung baru pulang dari kegiatan belanja-belanji yang menguras banyak energi, jadi yang terfikir jenis sayuran yang ngga perlu banyak waktu membuatnya... Pikir punya pikir,  setelah cek bahan yang ada di rumah tercetuslah ide untuk meramu SAWI yang tinggal beberapa helai dengan satu buah SOSIS AYAM plus TOFU AYAM...
Prosesnya juga mudah sangat... Pertama, panaskan margarin secukupnya untuk menumis bawang putih yang udah diiris... Setelah bawang putihnya mengeluarkan aroma yang menggoda, masukkan air secukupnya.. Sebaiknya sih air yang sudah masak, jadi lebih afdol lagi kebersihannya... Nah, masukkan lah itu Sawi, Sosis plus Tofu tadi... Jangan lupa kasih penyedap sedikit biar enak, merica secukupnya, garam juga ya...
Nah, tinggal ditunggu aja mendidih, plus pastikan juga sosisnya udah cukup masak ya...

Jadi deh, SaToSisnya...



ENAK, MUDAH, KENYANG!!!!





Thursday, 17 September 2009

Nobody’s History

Given from Matias Opazo
(Cause I don’t know is that he’d write or he’d just grab from the others.)
A lot of people remember that day, but nobody can talk about it, it’s a “Secret” a shadow in the mind, a staid in the eye. All the town pretends that nothing has changed, but the true is: the July 13 of 1993 everything changed. The local newspaper talked about “the tragedy of the church”, the biggest newspaper talked about “the tragedy of a church in the west of the little town of Santa Emiliana, South of XIX Region, Between the Big River and Dignidad”. But a lot of time can clean the mind in the big city. Santa Emiliana was full of journalist the whole week, but now, the real world is running, and we are in the forgotten. So, my initials are “J.R.Q”, I couldn’t give my real name, but I was there, in the church. – The publisher Stopped reading – stood up of there chair, he was nervous – J.R.Q? – in that moment the world was running, 13 people were having a orgasm in the city, 4 guys were dieing, but 6 woman were give light (that it the Overcrowding’s problem), one of this woman die, the babe didn’t have every problem, but he was sentenced for twenty years of prison, qualified homicide, when he leaves it, at the age of twenty five, he will become a Muslim terrorist, four thousand hundred four people will die because of him. The Publisher drank a glass of water, and kept reading, it was a long letter, little and shaky handwriting. When the publisher read about the conspiracy, everything became simplest but it was illogical for a little mind, so, the publisher had to do something. It was curious, when he arrives to Santa Emiliana all the people was sleep, in the street was a drunk man talking with her self about a revolution. It was disgusting. A city journalist can’t listen that kind of things. From no where six federal appear, the drunk man was laughing and a bugger was sliding in her ugly face, fore one second he remembered the face of a old woman saying: he is a male!… the first thing in her life was similar than the last thing in her consents life, but it didn’t matters, the journalist disappear, some one will see him seven year later, drunk and speaking about some kind of Muslim terrorist attack. Two years later a revolution had the whole country upside down, in Santa Emiliana the people slept one year. The revolution was short, but it was enough to make people forget Santa Emiliana, now the world keeps running, I don’t now the true, but we are happy. No?
-
-
-
I’ve got these stories from my chilies friend on Wednesday July, 28th 2004. His named as you seen above the story is Matias Opazo. He’s younger than me, but it is nice being his friend. I don’t know where he lived today; I’ve lost contact with him when he moved to Mexico after he graduated from high school. From that day I’ve got this story, I still wondering why he put a little story about a men who’d become a Muslim terrorist. Is that all in his head about Muslim? I thought he knew better about Muslim…

Tuesday, 15 September 2009

Menulis kembali

Menulis bukanlah hal baru bagiku...
Sejak aku mulai mengenal huruf maka dengan sendirinya aku pun mengenal tulisan dan tentu saja aku belajar menulis...
Menulis rangkaian cerita mulai aku gemari saat duduk di bangku sekolah tingkat pertama. Tulisan ku saat itu hanyalah berputar pada kegiatan sehari-hari yang aku tuliskan di sebuah diary.
Aku masih ingat diary ku yang pertama isinya hampir seluruhnya bercerita tentang isi hatiku... Bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali..
Diary menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Lambat laun, tidak hanya tentang perasaan bahagia yang aku tuliskan di sana..
Dari kebiasaan ini akupun mulai belajar untuk menulis sebuah cerita pendek... Merangkai sebuah kisah yang sudah ditentukan seperti apa awal dan akhirnya adalah kepuasaan bagiku..
Sesuatu yang tidak mungkin aku raih, seolah menjadi milikku sesaat dengan menulis cerita pendek..

Sampai aku menginjak usia remaja akhir, di saat aku mulai menjadi seorang mahasiswi kebiasaan menulis dalam sebuah diary belum aku tinggalkan...
Aku masih tetap menuliskan semua yang terjadi, meskipun itu buruk dan terkadang menyedihkan..

Sekarang, sampai aku menuliskan cerita ini untuk dibaca aku sedang berusaha untuk mengingat kembali apa yang membuat aku melupakan kebiasaan menulis itu...
Seolah ada yang hilang dari hidupku, dan aku tidak mampu mengingat dengan baik terakhir kali aku menulis dalam sebuah diary...

Aku mencoba mencari alasannya, meskipun tidak mudah..
Sampai akhirnya aku bahkan tidak mampu merangkai sedikit kalimat manakala aku berhdapan dengan diary ku..
Aku mungkin memang sengaja melupakan kebiasaan itu, seperti aku sengaja melupakan sebagian cerita dalam hidupku..

Aku tidak berharap apapun dari kebiasaanku..

Aku berusaha untuk memulainya kembali, dan semoga aku bisa...

Sunday, 6 July 2008

_ordinary me_

This is just another ordinary story.
I wrote for hundred times in my diaries.
It’s me who still trying to think and wondering about a feeling.
This is not about mine, but it is about his feeling.
Every time whenever I felt tired with this same old feeling, I try to erase it.
I talked to myself and write all that feeling with my simply words and sometimes I can’t understand at all.
Just like the same old stories about mine, I’m too afraid for this feeling never be the same.
Even I knew it will end up and became a cold mountain in my deepest heart.
It’s me sometimes became so fragile and easy to cry for myself.
I never think to get happy ending for this story, because I already know this story never ever have happy begin.
And then how can I find the answer for my question?
It’s him who created happy days with a full of laughing but also sadness in my life.
When he will realize then he try to understand all?
Has he ever sung for my lovely days?
I just wondering am I wasting every single day in life for admiring him?
It’s worth it? Or just wasted?